Kamis, 01 Agustus 2013

Cerpen : Hidup Terus Berjalan Bersamamu Maupun Tanpamu

Kyaaaaa, ini cerpenku jaman kapan yaaaa, udah lamaaaaa banget, kayanya waktu SMP deh, bahasanya masih sedikit alay dan geje, hahhaa biarin deh , selamat membacaa :D
cekidot........................

HIDUP TERUS BERJALAN
 BERSAMAMU MAUPUN TANPAMU
by : Annisa' Amalia

Kricik…kricik… terdengar suara gemericik alunan air di kolam renang yang terletak di belakang rumah, yang sedang dimainkan oleh kaki seorang gadis. Gadis berambut lurus panjang berwarna hitam legam, yang berlesung pipit di pipi kirinya itu kerap disapa Kiara. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki, jadi, tak heran jikalau dia pasti sangat disayangi dan dilindungi.
            “Dik…kamu di mana?” Suara itu memecahkan lamunan Kiara. Ya, itu suara Kak Bintang. Salah seorang kakaknya yang paling dekat dengan Kiara.
“ Iya kak ! Adik masih mainan air di kolam !”teriaknya.
“Itu Revan datang. Sudah nunggu dari tadi.”
“Dia disuruh ke sini aja Kak !”
Revan adalah teman dekat Kiara sejak usia empat tahun hingga saat ini. Kalau ditanya soal hubungan mereka, pasti jawabannya adalah lebih dari sahabat bahkan lebih dari pacar. Nantinya kalau sudah dewasa, orang tua mereka berniat untukmenjodohkan mereka. Mereka sangat dekat dan saling mengerti satu sama lain.
            “Hai Ra…jadi nemenin aku nggak?”ucap Revan seraya menepuk pundak Kiara.
            “Haah…memangnya kamu mau kemana ?”
            “Yee…udah nenek-nenek nih, pelupa benget sih !”ledek Revan.
            “Uups…aduh, maaf banget ya Rey. Aku benar-benar lupa. Iya,aku mau nemenin kamu kok, tapi, sebentar ya, aku ganti beju dulu ,”bergegas menuju kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Kiara selesai berganti pakaian. Lalu,ia langsung menemui Revan yang kiranya sudah lama menunggu dirinya di ruang tamu. Setelah itu, mereka meminta izin kepada orang tua Kiara untuk pergi jalan-jalan, dan langsung menuju ke halaman rumah bersiap untuk segera meninggalkan rumah.
            Sesampainya di tempat perbelanjaan, mereka berdia langsung menuju ke toko sepatu. Ya, Revan hendak membeli sepatu untuk dipakai pada tahun ajaran baru nanti. Akhirnya,ia mendapat sepatu yang telah diidam-idamkan sejak dulu.
            Seperti biasanya, mereka tidak langsung pulang ke rumah setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan. Mereka berjalan-jalan tukmelepas kepenatan. Tiba-tiba,mata Kiara terpusat pada sebuah benda yang unikmenurut pandangannya, lalu merekamenghampiri ke took aksesoris itu untuk membeli benda itu.
            “Rey…lihat deh cincin ini. Lucu ya?”seru Kiara dengan mata berbinar-binar seolah ingin sekali memiliki benda itu.
            “Kamu mau? Ambil aja. Tuh ada yang kembar. Aku juga kepengin beli nih !”
            “Wah ! Beneran? Kalau begitu,kita kembaran yuk. Buat tanda persahabatan kita. Aku nggak bakalan nglepas cincin ini deh !”hatinya berbunga-bunga.
            “He’eh ! Ide bagus ! Aku juga nggak bakalan nglepas cincin ini, kecuali kalua memang hilang. Hehehe…”ledek Revan.
            “Idih…kamu tuh..ya harus tetap dijaga dong !” seru Kiara.
Matahari sudah mulai menghilang ditelan langit. Rasa lapar pun menghampiri perut keduanya. Merekamemutuskan untuk makan terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba, badan Revan seperti hampir terjatuh. Matanya berkunang-kunang.
            “Aduh Ra ! Kepala aku sakit banget ,”suara Revan patah-patah.
            “Hah ! Kamu kenapa Rey ? Kita pulang aja yuk. Daripada kamu sakit. Nanti biar aku yang nyetir mobilnya,”sambil menuntun Revan ke parkiran.
            Dalam perjalanan pulang, rasa takut dan panik menghampiri otak Kiara. Ia takkuasa melihat sahabat kecilnya yang takberdaya menahan rasa sakit. Sesampainya di rumah, mama Revan juga langsung panik melihat anak kesayangannya pucat. Taklamasetelah itu, dokter datang untuk memeriksa keadaan Revan. Setelah Revan berhasil diatasi,Kiara pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Kebetulan rumah mereka satu kompleks.

***
          Malam harinya,mama Revan menangis karena melihat keadaan anaknya. Beliau seperti dihantam oleh sebuah batu besar.anak yang sangat disayanginya ternyata mengidap penyakit kanker otak stadium tiga. Anehnya, yang mengetahui hal itu hanya kedua orang tua Revan. Revan tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Mama Revan pun berfikir bagaimana cara untik membuat buah hatinya sembuh seperti sedia kala. Dan beliau memutuskan untuk mengajak Revan pindah ke luar negeri.untuk pengobatan. Namun, mama Revan bicara pada Revan bahwa mwreka terpaksa pindah keluar negeri karena papanya dipindah tugaskan di Singapura. Dan masih saja, mamanya tak mau jujur kepada Revan.
            Sehari setelah kejadian itu, Revan pergi ke rumah Kiara tuk menyampaikan kabar tak enak itu. Sebenarnya,ia berat sekali untuk berpisah dengan orang yang selalu dekat dengannya, selalu disisinya, selalu menemaninya. dan selalu menghiburnya. Tetapi,ini sudah keputusan bulat yang takbisa diganggu gugat.
            “Ra, aku mau bilang sesuatu. Memang sih, ini begitu berat buatku, tapi, ini yang harus terpaksa ku lakukan.”
            “Mmm…memangnya ada apa Rey?”
            Dengan mata berkaca-kaca,Revan mencoba bicara kepada Kiara, “Besok aku harus pergi ke Singapura. Karena papaku dipindah tugaskan di sana. Mau tak mau, aku harus menurutinya. Walauini memang berat, tetapi, aku yakin, kalu ini hanya sesaat, dan suatu hari nanti kita kan bertemu kembali.”
            “Apa ! Rey, kalau kamu pergi,aku disini sama siapa?”menangisi Revan.
            “Sssst…tenang Ra. Aku pasti kembali lagi. Kamu janji ya, nggak bakal lepas cincin persahabatan kita, nggak bakal lupa sama aku, nggakbakal luma samapersahabatan kita, dan kamu akan tetap menjaga kuko,ikan kesayangan kita,”hibur Revan.
            “Iya…iya Rey, aku akan nglakuin apa yang kamu inginkan. Tapi,kamu juga janji akan nglakuin hal yang sama.”
            Semalaman mereka tak bisa tidur karena memikirkan apa yang akan terjadi besok. Keesokan harinya, keluarga Revan dan Kiara sudah bersiap menuju bandara. Di bandara menjelang keberangkatan, mereka sempat menangis, tetapi, mereka berusaha untuk tegar.
            Selepas kepergian Revan, mulanya Kiara sering melamun. Bahkan, sempat ia mengigau karena rindu dengan Revan. Selama sebulan setelah kepergian Revan, mereka tetap menjaga komunikasi dengan baik. Namun, entah mengapa, tiba-tiba komunikasi mereka terputus. Bahkan Kiara takmendengar kabar tentang Revan lagi.
            Ternyata di Singapura, Revan sudah mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya. Jadi, ia ingin menjauhi Kiara agar Kiara dapat melupakannya. Walaupun pada kenyataannya, Revan sangat rindu dengan sahabat kecilnya. Tetapi,ia takmau Kiara sedih jika tahu apa yang terjadi dengan diri Revan.
            Selama satu tahun, Kiara bisa hidup tanpa baying-bayang Revan yang selalu menemaninya. Bahkan, semangat belajarnya pun meningkat, karena ia berambisi untuk dapat melanjutka sekolah ke Singpura. Karena kerja kerasnya, Kiara dinobatkan sebagfaisiswa dengan nilailulusan terbaik di kotanya. Jadi, ia dapat melanjutkan sekolah dimana pun ia suka, karena ia mendapatkan beasiswa berprestasi. Namun sayangnya, kedua orang tuanya tidak  menyetujui jika ia bersekolah di Singapura. Ya,mau bagaimana lagi,Kiara akhirnya bersekolah di SMA favorit di kotanya, SMA Tunas Bangsa.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar