Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Januari 2014

cita-cita dan "gantungannya"

Udah lama vakum dan tadaaaa... aku kembali nulis nih.
Kali ini mau bahas tentang cita cita. Kenapa mau bahas cita-cita? yep, alasannya sekarang lagi jaman ribet-ribetnya nentuin PTN mana, mau masuk mana, jurusan apa, dan bla bla blaaaaa (itu topik harian yang aku denger dari adekku kelas 3 SMA yang bikin bosen kalo dengerinnya -___-) .
Ya, siapa sih di dunia ini yang gak punya cita-cita? Tanya coba sama ortumu, adek, kakak, tetangga, guru, de es be, semuanya punya cita-cita. Contohnya aku pingin jadi dokter, jadi tentara, pingin kaya, pingin mobil bagus, pingin haji, pingin keluar negeri,  pingin ini pingin itu dan pingin semuanyaaaa >,<.
Cita-cita jangan sampai hanya sekedar cita-cita lho ya. Aku pernah dapet kuliah mekanika dengan dosen yang super duper inspiratif sekali.
Beliau menyatakan "ya kalian dari dulu sudah didoktrin dengan kata-kata gantungkan cita-citamu setinggi langit, tapi kamu karus punya gantungannya supaya bisa tergantung/tercapai cita-citamu" (intinya gitu, dengan editan seperlunya hihihi).
Yang ingin aku bagikan disini, berbasis pada pernyataan bapak dosen itu, ya memang kita boleh bahkan wajib kudu harus memiliki impian untuk tetap semangat menjalani hidup. Namun, tidak serta merta kita hanya cukum memilikinya tanpa berbuat apa-apa untuk menunggu datangnya cita-cita kita. Kita bukan hidup di negeri dongeng atau di dunia doraemon yang segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan instan. segalanya di dunia ini butuh proses. Proses untuk mencapai cita-cita itu yang nantinya akan berkesan sebagai cerita dibalik kesuksesan kita dalam menggapai impian kita.
Apa yang kau lakukan jika cita-citamu tak tercapai? ya memang segala rencana tidak semulus lantai licin dengan koefisien gesekan kinetik besar *lhhohh apa ini*. hmm, ya intinya dalam hidup pasti ada rintangannya, ketika cita-cita ini belum tercapai, lantas jangan langsung kaya di tivi/sinetron-sinetron yang lebay itu, langsung seperti tidak punya masa depan. ITU SALAH BESAR. harusnya kita punya stok cita-cita yang banyak, ketika gagal di satu, maka kita masih punya dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. TETAP SEMANGAT UNTUK MENCAPAI CITA-CITAMU. Belajar yang rajin supaya segala yang kau impikan bisa terwujud. Itu salah satu cara untuk membuat GANTUNGANNYA :D
Ohya, inget dengan kata-kata "Ridha Allah adalah ridha orang tua". Nah yang satu ini nih, jangan lupa meminta restu pada kedua orang tua kita ya, karena segala sesuatunya percuma saja jika kedua orangtua kita tidak merestuinya :)

Pesen aja buat adek-adek yang galau mau masuk jurusan apa, PTN mana, dan de es be.
#Pertama, tanyakan pada diri sendiri, kenali diri sendiri, letak kelebihan, kekurangan, dan jiwa mu itu di mana.
#Kedua, tentukan jurusan sesuai hatimu, bukan karena paksaan, ikut-ikutan atau sejenisnya.
#Ketiga, konsultasikan jurusan yang kamu inginkan dengan orang-orang terdekat, misalnya orangtua, kita harus mendapat izin dan restunya. Jika kurang disetujui, maka kalian dengan halus menanyakan apa penyebabnya,. Jika sekiranya penyebabnya kurang masuk akal, kamu bisa sedikit merayu tentunya jangan memaksakan jika beliau benar-benar tidak mengizinkan. ingat "Ridha Allah adalah ridha orang tua" :)
#Keempat, ketika jurusan sudah fix, maka menentukan PTN mana yang akan menjadi tempat kau menuntut ilmu. Langkah awal adalah melihat akreditasi jurusan yang kau inginkan pada PTN itu, jangan melihat gengsi PTN nya. Itu perlu, tetapi, lebih utama jika kita melihat jurusannya dahulu. :)

Okee, semoga bermanfaat dan jangan menggalau lagi. Semangat untuk terus meraih cita-cita !!! :D

Kamis, 01 Agustus 2013

Cerpen : Hidup Terus Berjalan Bersamamu Maupun Tanpamu

Kyaaaaa, ini cerpenku jaman kapan yaaaa, udah lamaaaaa banget, kayanya waktu SMP deh, bahasanya masih sedikit alay dan geje, hahhaa biarin deh , selamat membacaa :D
cekidot........................

HIDUP TERUS BERJALAN
 BERSAMAMU MAUPUN TANPAMU
by : Annisa' Amalia

Kricik…kricik… terdengar suara gemericik alunan air di kolam renang yang terletak di belakang rumah, yang sedang dimainkan oleh kaki seorang gadis. Gadis berambut lurus panjang berwarna hitam legam, yang berlesung pipit di pipi kirinya itu kerap disapa Kiara. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki, jadi, tak heran jikalau dia pasti sangat disayangi dan dilindungi.
            “Dik…kamu di mana?” Suara itu memecahkan lamunan Kiara. Ya, itu suara Kak Bintang. Salah seorang kakaknya yang paling dekat dengan Kiara.
“ Iya kak ! Adik masih mainan air di kolam !”teriaknya.
“Itu Revan datang. Sudah nunggu dari tadi.”
“Dia disuruh ke sini aja Kak !”
Revan adalah teman dekat Kiara sejak usia empat tahun hingga saat ini. Kalau ditanya soal hubungan mereka, pasti jawabannya adalah lebih dari sahabat bahkan lebih dari pacar. Nantinya kalau sudah dewasa, orang tua mereka berniat untukmenjodohkan mereka. Mereka sangat dekat dan saling mengerti satu sama lain.
            “Hai Ra…jadi nemenin aku nggak?”ucap Revan seraya menepuk pundak Kiara.
            “Haah…memangnya kamu mau kemana ?”
            “Yee…udah nenek-nenek nih, pelupa benget sih !”ledek Revan.
            “Uups…aduh, maaf banget ya Rey. Aku benar-benar lupa. Iya,aku mau nemenin kamu kok, tapi, sebentar ya, aku ganti beju dulu ,”bergegas menuju kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Kiara selesai berganti pakaian. Lalu,ia langsung menemui Revan yang kiranya sudah lama menunggu dirinya di ruang tamu. Setelah itu, mereka meminta izin kepada orang tua Kiara untuk pergi jalan-jalan, dan langsung menuju ke halaman rumah bersiap untuk segera meninggalkan rumah.
            Sesampainya di tempat perbelanjaan, mereka berdia langsung menuju ke toko sepatu. Ya, Revan hendak membeli sepatu untuk dipakai pada tahun ajaran baru nanti. Akhirnya,ia mendapat sepatu yang telah diidam-idamkan sejak dulu.
            Seperti biasanya, mereka tidak langsung pulang ke rumah setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan. Mereka berjalan-jalan tukmelepas kepenatan. Tiba-tiba,mata Kiara terpusat pada sebuah benda yang unikmenurut pandangannya, lalu merekamenghampiri ke took aksesoris itu untuk membeli benda itu.
            “Rey…lihat deh cincin ini. Lucu ya?”seru Kiara dengan mata berbinar-binar seolah ingin sekali memiliki benda itu.
            “Kamu mau? Ambil aja. Tuh ada yang kembar. Aku juga kepengin beli nih !”
            “Wah ! Beneran? Kalau begitu,kita kembaran yuk. Buat tanda persahabatan kita. Aku nggak bakalan nglepas cincin ini deh !”hatinya berbunga-bunga.
            “He’eh ! Ide bagus ! Aku juga nggak bakalan nglepas cincin ini, kecuali kalua memang hilang. Hehehe…”ledek Revan.
            “Idih…kamu tuh..ya harus tetap dijaga dong !” seru Kiara.
Matahari sudah mulai menghilang ditelan langit. Rasa lapar pun menghampiri perut keduanya. Merekamemutuskan untuk makan terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba, badan Revan seperti hampir terjatuh. Matanya berkunang-kunang.
            “Aduh Ra ! Kepala aku sakit banget ,”suara Revan patah-patah.
            “Hah ! Kamu kenapa Rey ? Kita pulang aja yuk. Daripada kamu sakit. Nanti biar aku yang nyetir mobilnya,”sambil menuntun Revan ke parkiran.
            Dalam perjalanan pulang, rasa takut dan panik menghampiri otak Kiara. Ia takkuasa melihat sahabat kecilnya yang takberdaya menahan rasa sakit. Sesampainya di rumah, mama Revan juga langsung panik melihat anak kesayangannya pucat. Taklamasetelah itu, dokter datang untuk memeriksa keadaan Revan. Setelah Revan berhasil diatasi,Kiara pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Kebetulan rumah mereka satu kompleks.

***