Kyaaaaa, ini cerpenku jaman kapan yaaaa, udah lamaaaaa banget, kayanya waktu SMP deh, bahasanya masih sedikit alay dan geje, hahhaa biarin deh , selamat membacaa :D
cekidot........................
HIDUP TERUS
BERJALAN
BERSAMAMU MAUPUN TANPAMU
by : Annisa' Amalia
Kricik…kricik… terdengar suara
gemericik alunan air di kolam renang yang terletak di belakang rumah, yang
sedang dimainkan oleh kaki seorang gadis. Gadis berambut lurus panjang berwarna
hitam legam, yang berlesung pipit di pipi kirinya itu kerap disapa Kiara. Dia
anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki, jadi, tak heran
jikalau dia pasti sangat disayangi dan dilindungi.
“Dik…kamu di mana?” Suara itu
memecahkan lamunan Kiara. Ya, itu suara Kak Bintang. Salah seorang kakaknya
yang paling dekat dengan Kiara.
“ Iya kak ! Adik masih mainan air di kolam !”teriaknya.
“Itu Revan datang. Sudah nunggu dari tadi.”
“Dia disuruh ke sini aja Kak !”
Revan adalah teman dekat Kiara sejak usia empat tahun hingga saat ini.
Kalau ditanya soal hubungan mereka, pasti jawabannya adalah lebih dari sahabat
bahkan lebih dari pacar. Nantinya kalau sudah dewasa, orang tua mereka berniat
untukmenjodohkan mereka. Mereka sangat dekat dan saling mengerti satu sama
lain.
“Hai Ra…jadi nemenin aku nggak?”ucap
Revan seraya menepuk pundak Kiara.
“Haah…memangnya kamu mau kemana ?”
“Yee…udah nenek-nenek nih, pelupa
benget sih !”ledek Revan.
“Uups…aduh,
maaf banget ya Rey. Aku benar-benar lupa. Iya,aku mau nemenin kamu kok, tapi,
sebentar ya, aku ganti beju dulu ,”bergegas menuju kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Kiara
selesai berganti pakaian. Lalu,ia langsung menemui Revan yang kiranya sudah
lama menunggu dirinya di ruang tamu. Setelah itu, mereka meminta izin kepada
orang tua Kiara untuk pergi jalan-jalan, dan langsung menuju ke halaman rumah
bersiap untuk segera meninggalkan rumah.
Sesampainya di tempat perbelanjaan,
mereka berdia langsung menuju ke toko sepatu. Ya, Revan hendak membeli sepatu
untuk dipakai pada tahun ajaran baru nanti. Akhirnya,ia mendapat sepatu yang
telah diidam-idamkan sejak dulu.
Seperti biasanya, mereka tidak
langsung pulang ke rumah setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan. Mereka
berjalan-jalan tukmelepas kepenatan. Tiba-tiba,mata Kiara terpusat pada sebuah
benda yang unikmenurut pandangannya, lalu merekamenghampiri ke took aksesoris
itu untuk membeli benda itu.
“Rey…lihat
deh cincin ini. Lucu ya?”seru Kiara dengan mata berbinar-binar seolah ingin
sekali memiliki benda itu.
“Kamu
mau? Ambil aja. Tuh ada yang kembar. Aku juga kepengin beli nih !”
“Wah
! Beneran? Kalau begitu,kita kembaran yuk. Buat tanda persahabatan kita. Aku
nggak bakalan nglepas cincin ini deh !”hatinya berbunga-bunga.
“He’eh
! Ide bagus ! Aku juga nggak bakalan nglepas cincin ini, kecuali kalua memang
hilang. Hehehe…”ledek Revan.
“Idih…kamu
tuh..ya harus tetap dijaga dong !” seru Kiara.
Matahari sudah mulai menghilang
ditelan langit. Rasa lapar pun menghampiri perut keduanya. Merekamemutuskan
untuk makan terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba, badan Revan seperti hampir
terjatuh. Matanya berkunang-kunang.
“Aduh Ra ! Kepala aku sakit banget
,”suara Revan patah-patah.
“Hah
! Kamu kenapa Rey ? Kita pulang aja yuk. Daripada kamu sakit. Nanti biar aku
yang nyetir mobilnya,”sambil menuntun Revan ke parkiran.
Dalam perjalanan pulang, rasa takut
dan panik menghampiri otak Kiara. Ia takkuasa melihat sahabat kecilnya yang
takberdaya menahan rasa sakit. Sesampainya di rumah, mama Revan juga langsung
panik melihat anak kesayangannya pucat. Taklamasetelah itu, dokter datang untuk
memeriksa keadaan Revan. Setelah Revan berhasil diatasi,Kiara pulang ke rumah
dengan berjalan kaki. Kebetulan rumah mereka satu kompleks.
***